fathurisi https://rainbow.fathurisi.com The Selfprofile Mon, 08 Dec 2014 04:54:19 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.5.1 Chevron: Kota Suci Leluhur Yah*di yang (katanya) pernah dibantai, diperkosa, bahkan dibakar bangsa Arab https://rainbow.fathurisi.com/tentang-chevron/ https://rainbow.fathurisi.com/tentang-chevron/#comments Tue, 19 Feb 2013 14:52:22 +0000 fathurisi https://rainbow.fathurisi.com/?p=111 Tulisan ini adalah versi lite dari esai perkuliahan Apresiasi Desain (tentang bagaimana mendeskripsikan hingga menilai suatu karya desain), yang memang menarik perhatian saya sejak pertama kali menyaksikannya di tv. Chevron Corporation telah berada di Indonesia sejak lebih dari 80 tahun. Chevron Indonesia adalah perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Indonesia. Kategori usahanya [...]

The post Chevron: Kota Suci Leluhur Yah*di yang (katanya) pernah dibantai, diperkosa, bahkan dibakar bangsa Arab appeared first on fathurisi.

]]>

Tulisan ini adalah versi lite dari esai perkuliahan Apresiasi Desain (tentang bagaimana mendeskripsikan hingga menilai suatu karya desain), yang memang menarik perhatian saya sejak pertama kali menyaksikannya di tv.

Chevron Corporation telah berada di Indonesia sejak lebih dari 80 tahun. Chevron Indonesia adalah perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di Indonesia. Kategori usahanya adalah usaha hulu dimana ia mengambil dan mengolah minyak dan gas bumi, kemudian dijual dalam bentuk minyak mentah ke berbagai kilang minyak. Untuk kasus di Indonesia tentunya kebanyakan atau keseluruhan dijual ke kilang milik Pertamina.

Untuk gas sendiri diubah perusahaan yang berkantor pusat di San Ramon, California ini ke bentuk cair dan dikirim lewat kapal untuk digunakan oleh pembelinya. Karena tidak ada pipa gas langsung ke konsumen dari lapangan Chevron di Sumatera yang merupakan bekas perusahaan Unocal yang bergabung dengan Chevron pada tahun 2005.

Sebagai perusahaan yang tidak menjual produk langsung ke konsumen retail, tentunya beriklan di media merupakan hal yang dirasa kurang perlu. Namun pada kenyataannya, Chevron telah meluncurkan 4 serial iklan yang selain muncul di televisi, juga dapat ditemukan di koran, majalah dan internet sejak akhir tahun lalu. Dimana pada masing-masing iklan dicantumkan alamat web www.chevronindonesia.com yang sebenarnya merefer ke salah satu bagian dari alamat web resmi Chevron www.chevron.com yang berisi konten-konten edukatif mengenai perusahaan minyak. Tampilan Halaman Web Chevron Indonesia

Terdapat 4 iklan serial dengan pesan utama “Kami Setuju”. Pesan disampaikan menggunakan teknik narasi antara pihak Chevron dan masyarakat dengan latar belakang pekerjaan berbeda yang saling melengkapi kalimat narasi. Dengan subtema sebagai berikut:

  1. MASYARAKAT | Perusahaan minyak dan masyarakat harus saling mendukung
  2. TEKNOLOGI | Perusahaan minyak perlu melakukan terobosan
  3. SUMBER DAYA | Perusahaan minyak perlu berpikir jangka panjang
  4. KOMITMEN | Perusahaan harus berkomitmen demi masa depan Indonesa

Iklan ini menggunakan narasi yang dilakukan secara bergantian, namun saling melengkapi. Ia berusaha memperlihatkan kesejajaran antara perusahaan Chevron dengan masyarakat di Indonesia.

Karena iklan ini bersifat edukatif, maka Chevron menargetkan iklan ini kepada masyarakat menengah ke atas berpendidikan yang notabene lebih kritis dalam menilai suatu hal, dan memang berpengaruh dalam masyarakat. Untuk itulah ia memilih endorser yang merupakan pekerja profesional yaitu penulis yang berada di bioskop mewakili generasi profesional muda. Kemudian Desainer Grafis yang selain mewakili orang-orang kreatif yang cukup jarang dijadikan target market, juga berniat menargetkan iklan ke pekerja professional group income. Begitupula dengan Produser Radio yang dipilih untuk menargetkan eksekutif muda. Dan terakhir, seorang profesor mewakili generasi yang lebih tua yang pastinya juga berpendidikan.

Yang menarik disini adalah, betapa Chevron menganggap Indonesia sebagai negara yang memiliki nilai Islam. Terbukti dari penampilan endorser yang sebagian besar meminjam ideologi keislaman dengan mengenakan jilbab bahkan hijab, lalu profesor dengan janggut lebat dan baju menyerupai baju koko yang secara intrinsik metonimia menginformasikan tanda dari ciri seorang agamis. Chevron berusaha meminjam tanda-tanda tersebut untuk merangkul Indonesia menurut sudut pandangnya.

Selain itu, secara umum Chevron juga berusaha mensosialisasikan value diferensiasi sebagai perusahaan minyak dan gas. Dengan berusaha menunjukkan jasanya kepada Indonesia, ia berusaha memperlihatkan ideologi sosialis yang dapat mengambil hati masyarakat menuju utopia yang positif. Citra perusahaan minyak yang akan secara semiotik membawa audiens ke citra dari kata “minyak” itu sendiri, berusaha ia tampikkan secara teknis dengan videografi yang clean dan latar belakang dan desain layout modern yang friendly.

Pada dasarnya, iklan ini memiliki ekseskusi yang baik. Narasi yang pintar dibungkus dengan videografi apik sambil meminjam gaya hidup beberapa segmen dari target audiens yang dituju merupakan iklan yang dapat dikatakan sangat visioner atau sarat akan tujuan dan makna. Iklan dengan format seperti ini juga dapat disebut sebagai “produk baru” di Indonesia. Namun jika menerawang lebih dalam, di sisi lain, iklan ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan kritis.

Sebut saja mengenai penampilan para endorser yang syar’i itu. Alih-alih mengambil hati, bisa jadi hal ini malah membuat audiens merasa curiga. Apalagi setelah ditelusuri, rupanya Chevron merupakan nama sebuah kota suci leluhur Yahudi yang katanya pernah terjadi pembantaian orang Yahudi oleh bangsa Arab di masa itu. Bisa-bisa iklan ini malah dianggap sebagai sebuah propaganda politik bahkan reliji.

Selain itu – jika melihat tujuan periklanan sebagai media promosi – tidak ada produk yang ditawarkan baik pada iklan televisi, majalah, koran hingga internetnya yang sama-sama mengacu pada alamat web Chevron yang hanya berisi unsur edukasi dan strategi komunikasi marketing dalam bentuk poling bertajuk “Saya Setuju”. Mengingat bahwa memang Chevron bukanlah pemroduksi produk industri retail.

Iklan ini lebih ke kampanye edukasi yang akan menyerempet ke arah CSR (Corporate Social Responsibility), atau tanggung jawab sosial perusahaan yang dalam pengertiannya merupakan suatu tanggung jawab organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Padahal, anggaran beriklan yang pastinya miliaran itu bisa saja digunakan untuk keperluan sosial lain yang lebih urgent seperti pembangunan sekolah, misalnya. Apalagi, biaya CSR itu adalah non-cost recovery, artinya biaya iklan televisi yang nilainya puluhan hingga ratusan juta rupiah per menitnya, atau biaya iklan di Kompas yang 1/2 halaman full color itu sekitar 200-300 juta per harinya, atau biaya iklan di detik.com selama berhari-hari yang tentunya juga tidak murah tidak akan diganti oleh pemerintah sebagai bagian biaya operasi.

Jika melihat ke media lain kampanye ini seperti majalah, terdapat real endorser dari pejabat pemerintah yang dalam hal ini Komisaris Pertamina yang sampai mencantumkan tanda tangannya, bagaimana mungkin "petugas" negara malah menjadi Ambassador perusahaan Asing. Bayangkan bagaimana Bung Karno menanggapi hal ini. Padahal jika melihat pesan Chevron dengan "janji" berkomitmen demi masa depan Indonesia, hal ini dinilai terlalu tinggi bahkan muluk. Karena indikator komitmennya tidak dapat diukur. “Apa Chevron mau semua lifting-nya diserahkan ke kilang domestik? Apa mereka mau 100 persen manajemennya untuk anak Indonesia? Kapan TKDN-nya 100 persen? Itu semua omong kosong !!! Jangan membodohi rakyat!!!” demikian kalimat pembuka Faisal Yusra, Presiden Konfederasi SP MIGAS Indonesia (KSPMI), pada dinding jejaring sosial Facebook, Rabu, 21 Desember 2011 lalu[1]

Sepertinya, ‘musuh' para pecinta lingkungan hidup, karena memiliki lokasi di hutan lindung yang memiliki 'hutang' karena lebarnya jurang pemisah antara masyarakat setempat dengan kesejahteraan pegawai Chevron ini berusaha mengantisipasi antipati masyarakat terhadap dirinya sebagai Perusahaan Asing. Sebut saja kerusuhan Freeport akibat aksi demo ribuan buruh tambangnya yang belum berujung. Chevron telah menyadari “jati dirinya” dan berusaha memposisikan diri di tempat yang aman. Mengingat kampanye ini dilakukan secara global.

The post Chevron: Kota Suci Leluhur Yah*di yang (katanya) pernah dibantai, diperkosa, bahkan dibakar bangsa Arab appeared first on fathurisi.

]]>
https://rainbow.fathurisi.com/tentang-chevron/feed/ 2
Perancangan Ensiklopedia Visual “Dpazl” sebagai Media Pembangun Awareness terhadap Eksistensi Kelompok Elit Illuminati https://rainbow.fathurisi.com/dpazl-abstract/ https://rainbow.fathurisi.com/dpazl-abstract/#comments Tue, 19 Feb 2013 10:09:38 +0000 fathurisi https://rainbow.fathurisi.com/?p=98 Sebuah Abstraksi Tugas Akhir

The post Perancangan Ensiklopedia Visual “Dpazl” sebagai Media Pembangun Awareness terhadap Eksistensi Kelompok Elit Illuminati appeared first on fathurisi.

]]>
Disadari atau tidak, globalisasi – bersamaan dengan begitu mudah dan cepatnya arus informasi melalui berbagai sarana teknologi – mempengaruhi masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Setiap saat, masyarakat bisa mengakses informasi apapun melalui hampir semua media yang bahkan ada dalam genggaman tangannya. Umumnya, globalisasi lebih dikenal membawa dampak positif. Namun pengetahuan yang setengah-setengah menutupi urgensi dari dampak negatif yang lebih signifikan. Seperti misalnya disorientasi, atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat, serta yang paling penting, semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme bahkan hedonisme yang dewasa ini, tidak hanya terjadi di perkotaan, tapi dapat dikatakan merambah hampir seluruh masyarakat  di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah umat Muslim terbanyak di dunia.

Berkembangnya jenis dan pilihan produk berbanding lurus dengan gaya hidup konsumtif yang menurut KBBI, merupakan paham yg menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Padahal, selain makin banyaknya produk-produk sekunder bahkan tersier diluar kebutuhan yang dibeli masyarakat, mereka juga tidak sadar bahwa penggunaan uang kertas yang tidak bijak akan membawa lebih banyak dampak buruk. Masyarakat mayor tidak tahu dan cenderung tidak peduli terhadap sistem uang/ perbankan dewasa ini yang tidak lepas dari Riba. Bagaimana sistem tersebut diciptakan, mengapa emas sebagai alat tukar digantikan dengan uang kertas, mengapa terus-menerus terjadi inflasi, dan yang paling penting, untuk siapa uang mereka dibelanjakan, adalah hal-hal yang luput dari perhatian 88% populasi Indonesia yang beragama Islam.

Disamping Freemasonry; Globalisme, Komunisme, Pluralisme, Sosialisme, Liberalisme, Feminisme, Zionisme, dan Neo Konservatisme, adalah kemasan dan “make up” para elit Illuminati dalam mewujudkan satu tujuan, “Novus Ordo Seclorum”, bahasa latin yang berarti “Orde Baru (yang) Sekuler”, yang lebih dikenal sebagai “New World Order”, tatanan dunia baru yang memisahkan agama dari kehidupan, atau singkatnya, dunia tanpa Tuhan. Dalam beberapa agama, hal ini merupakan tanda-tanda berakhirnya dunia, dan  mereka berusaha mewujudkan itu dengan berbagai cara yang tidak banyak disadari oleh dunia, mulai dari hiburan seperti pop-culture, musik, film, pornografi dan industri sejenis, lalu pemikiran, gaya hidup dan gerakan-gerakan/ organisasi menyimpang, konspirasi, hingga yang paling dekat dengan masyarakat saat ini, yakni produk-produk konsumtif, mulai dari produk-produk high-involvement, Kuadran I seperti barang-barang teknologi dan gaya hidup, hingga produk low-involvement, Kuadran 4 yang dikonsumsi setiap hari, seperti alat-alat mandi, makanan, dan yang teparah, rokok. Tidak banyak yang sadar bahwa darisitulah dana perang yang begitu besar terhadap saudara-saudara kita di Timur Tengah dikumpulkan kelompok pemuja setan tersebut.

Sebenarnya, pengetahuan dan teori mengenai Illuminati dan agenda-agenda mereka sudah diterbitkan dan dapat dibeli di toko-toko buku. Namun lagi-lagi, pengetahuan yang setengah-setengah dan topik-topik yang lebih banyak beredar selama ini lewat internet dan mulut ke mulut, membuat masyarakat Indonesia khususnya, tidak terlalu menganggap serius dan tidak jarang yang mempercayainya sebagai Hoax. Dpazl adalah sebuah Ensiklopedia Visual yang pada titik awal akan berbentuk buku berisi ilustrasi dan infografis yang seperti namanya, berkonsep dari potongan-potongan puzzle yang disatukan. Strategi Illuminati dalam “bersenjatakan” kotak yang ada di setiap rumah, yakni televisi, merupakan alasan kenapa buku dipilih sebagai media perancangan ini, karena, buku dapat berdiri sendiri dan dapat diperlihatkan ke lebih banyak segmen dan lebih banyak orang di Indonesia dibandingkan dengan media digital. Meskipun visualisasi dan gaya komunikasi akan disesuaikan dengan segmen utama yakni secara umum generasi muda di atas 20 tahun, namun dengan media buku Ensiklopedia Visual, target utama dapat membagi informasi ke orang lain dengan buku tersebut sebagai representasi fisik yang maksimal. Ensiklopedia ini akan disajikan dengan mengkorelasikan kehidupan sehari-hari dan dampaknya terhadap dunia pada umumnya, dan umat Muslim khususnya.

Diharapkan, Ensiklopedia Visual Dpazl ini dapat memberikan pengetahuan, yang minimalnya adalah awareness, dan lebih jauh lagi, masyarakat Indonesia dapat memilah-milah kepada siapa uangnya dibelanjakan dan bahkan dapat menjadi masyarakat produktif, dalam rangka mewujudkan pribadi-pribadi yang mandiri dan independen.

The post Perancangan Ensiklopedia Visual “Dpazl” sebagai Media Pembangun Awareness terhadap Eksistensi Kelompok Elit Illuminati appeared first on fathurisi.

]]>
https://rainbow.fathurisi.com/dpazl-abstract/feed/ 0